Perencanaan Syariah

Perencanaan menurut George R. Terry dan Leslie W. Rue, adalah proses memutuskan tujuan-tujuan apa yang akan dikejar selama suatu jangka waktu yang akan datang dan apa yang dilakukan agar tujuan-tujuan itu dapat tercapai.

Sedangkan kriteria perencanaan syariah, antara lain:

  1. Tidak boleh bertentangan dengan syara
  2. Mempercayai takdir dan bertawakal kepada Allah
  3. Bertujuan beribadah kepada Allah
  4. Memakmurkan alam semesta

Hasan al-Bana (w.1368 H) dalam al-Mizjâjî, mengutip sebagian pendapat pakar ekonomi Islam mengenai definisi perencanaan (Planning/al-Tahthîth), yaitu metodologi kerja kolektif dalam sebuah organisasi untuk menghadapi faktor-faktor yang akan datang dan bersandar pada pemikiran yang sistematis dengan mempercayai takdir dan bertawakal kepada Allah dengan senantiasa berusaha untuk merealisasikan tujuan. Sedangkan yang menjadi tujuan syara tidak lain adalah beribadah kepada Allah dan memakmurkan alam semesta.

Perencanaan ini berdasarkan firman Allah swt:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ ٦٠

 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Anfâl [8]:60)

Dalam mengistibath ayat ini Al-Mizjâjî menegaskan bahwa sekalipun ayat ini khusus untuk perencanaan yang berkaitan prajurit, tapi menurut kami ayat tersebut juga bersifat universal, termasuk mempersiapakan seluruh bidang pekerjaan yang akan datang. Karena akal yang digunkan untuk merancang sesuatu itu bernilai ibadah.

Manajemen Perencanaan disebutkan dalam hadits:

حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ، حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»  (رواه أبي يعلى)

Mus’ab telah bercerita kepada kami (Abu Ya‟lâ), Bisyr bin al-Sarrî telah bercerita kepadaku dari Mus‟ab bin Tsâbit dari Hisyâm bin ‘Urwah dari ayahnya dari Aisyâh bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan secara itqân (tepat, terarah, jelas, tuntas).”

Sesuatu yang tidak memiliki itqân sulit untuk mencapai kesuksesan. Karena dengan memperhatikan hadits ini, pertotolongan Allah SWT akan turun sesuai dengan prosentasi kerja yang itqân dan maksimal.

Sedangkan adh-Dhahyân, dalam bukunya al-idârah wa al-Hukm fî al-Islâm- al-Fikr wa al-Tathbîq, membagi peracanaan kerja Nabi saw menjadi dua, yaitu Periode Makkah dan Periode Madinah.

Menurut Al-Hamid al-Husaini, perecanaan dakwah Rasulullah saw mulai diangkat menjadi Nabi hingga wafat ada beberapa tahap, yaitu:[3]

  1. Dakwah secara diam-diam, berlangsung selama tiga tahun
  2. Dakwah terbuka berlangsung hingga Rasulullah hijrah ke Madinah
  3. Dakwah terbuka diselingi beberapa kali peperangan melawan serangan musuh-musuh Islam dan kekuatan lain yang menyerang lebih dulu, atau mereka yang mengganggu kesentosaan kaum muslimin. Dakwah ini berlangsung hingga perjanjian Hudaibiyyah.
  4. Dakwah terbuka diselingi beberapa kali peperangan melawan setiap kekuatan yang merintangi dan membendung dakwah Islam. Tahap inilah yang menjamin kemantapan perintah syariat dan melandasi hukum peperangan di dalam Islam.

Banyak cara dalam merancang rencana, salah satunya adalah metode 5 W+ 1H :   what,   when,   who,   where, why   dan how. Cara 5 W jelaskan, “apa yang hendak dilakukan, kapan dilaksanakan, siapa pelakunya, dimana pelaksanaannya,    dan   “ mengapa itu    dijalankan.” Dan 1 H gambarkan “bagaimana cara melakukannya.” Dengan 5 W + 1 H ini bisa dihasilkan rencana yang lebih komprehensif dan mudah dipahami. Disamping juga tidak sukar menyusun plan of action-nya.

Manajemen Perencanaan dalam kaitannya dengan wakaf adalah lembaga wakaf, nazir, manajer dan seluruh stekhholder wakaf harus mempunyai perencanaan syariah yang strategis sejak awal sebelum atau sesudah menerima wakaf untuk menerima atau penggalangan harta wakaf, baik wakaf bergerak (al-Manqûl), seperti wakaf uang, obligasi atau surat berharga lainnya; atau tidak bergerak (al-‘aqâr), seperti tanah, property, lalu memaksimalkan untuk mengembangkan harta wakaf kemudian disalurkan untuk pemberdayaan umat. Dan jauh lebih penting harus merencanakan nazir wakaf yang amanah, professional dan sesuai dengan syariat Islam.

Nazir wakaf memiliki hirarki perencanaan syariah, antara lain:

  1. Perencanaan visi, misi dan tujuan.
  2. Perencanaan sasaran
  3. Perencanaan strategi.
  4. Perencanaan kebijakan
  5. Perencanaan prosedur
  6. Perencanaan peraturan
  7. Perencanaan program
  8. Perencanaan anggaran.