Dasar Hukum Wakaf

Yang membolehkan wakaf secara mutlak didukung jumhur ulama fuqahâ  Syafi‘îyyah, Mâlikiyyah, Hanâbilah dan Hanafîyyah, kecuali riwayat dari Abu Hanifah (w. 195 H) dan Zufar (w. 182 H) . Yang diperbolehkan antara lain wakaf rumah, tanah (termasuk bangunan dan tanamannya), budak, senjata, kura‘(kuda dan keledai), baju, mushaf dan lain sebagainya.

Golongan ini berargumentasi dengan dengan dalil umum (yang berkiatan dangan filantropi wakaf dan lainnya) dan dalil khusus yang spesifik wakaf.

Ulama fiqh berdalil (istidlal) dengan dalil umum dalam al-Qur‘an

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ ٩٢

 “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan. Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran [8]: 92)

Wajhud dilâlah ayat tersebut, adalah kata “al-Birru” (Kebaikan bendawi)

Kesimpulan dari dalil (wajhul istidlal) ini menunjukkan bahwa sedakah itu sunnah, sedangkan wakaf termasuk sedekah. Karena itu hukum wakaf juga sunnah.

Dalam menafsiri ayat ini Asy-Syafi‘i Asy-Syafii (204 H) menegaskan, ayat ini menunjukkan perintah (sunah) berdonasi dengan harta dan makanan untuk kemaslahan umat.

Dalam menafsiri ayat ini Al-Qurthubî (w. 671 H) menegaskan, dalam ayat ini terdapat petunjuk yang membolehkan penerapan makna tekstual dan makna umum. Sebab para sahabat tidak memahami maknanya selain yang tertera pada teks.

Abdul Qadir al-Jailanî (w. 561 H) , dalam menafsiri ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang beriman tidak akan mencapai tingkat al-abrar al-akhyar di sisi Allah secara mutlak hingga mensedekahkan sesuatu yang dicintainya, untuk mentaati perintah-Nya dan mecari ridha-Nya, sekalipun berupa biji, jagung atau ucapan yang baik untuk mendapatkan ridha -Nya, tanpa disertai ungkitan dan menyakiti hati.

Anas ra. menjelaskan asbabun nuzul ayat tersebut, ketika ayat tersebut turun, Abu Thalhah berkata, “Sesungguhnya saya berpendapat, Tuhan kami minta kami untuk mengeluarkan harta-harta kami, karena itu jadilah baginda ya Rasulullah saksiku bahwa sesungguhnya saya menjadikan tanahku untuk Allah. Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah tanah itu untuk keluargamu: Hassan bin Tsabit dan Ubay bin Ka‟ab.

Dalil umum yang berkaitan dengan wakaf dalam hadits:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ  (رواه مسلم).

Yahyâ bin Ayyub, Qutaibah (Ibnu Sa‟id) dan Ibnu Hujr telah bercerita kepada kami (Muslim) , mereka berkata Ismâ’il (Ibnu Ja‟far) telah bercerita kepada kami dari al-‘Alâ dari ayahnya dari Abî Hurairah sesungguhnya Rasulullâh saw bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

An-Nawawi An-Nawawi (w. 676 H) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan dalil keabsahan wakaf dan betapa besar pahalanya. Juga menjelaskan keutamaan ilmu, mendorong untuk memperbanyakknya dan  mewariskannya dengan mengajar, dan mengarang; dan sebaiknya memilih ilmu yang paling bermanfaat. Di dalam hadits ini menjelaskan sampainya doa,  sedekah  dan pelunasan hutang ke mayit.

Mengenai amal yang pahalanya selalu mengalir, dalam hadits yang lain disebutkan:

حَدَّثنا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، حَدَّثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ هَانِىءٍ، حَدَّثنا مُحَمَّدٌبْنُ عُبَيدِ اللهِ الْعَرْزُمِي، عَن قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُول اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم: سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ، وهُوفِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ (رواه البزار)

Umar bin Khathab telah berceritakan kepada kami (al-Bazâr), Abdurahman bin Hânî telah bercerita kepada kami, Muhammad bin ‘Ubadillâh al-‘Arzûmî telah bercerita kepada kami dari Qatâdah dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal sesudah meninggalnya dan ada dalam kuburnya, (yaitu) : (1) Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, (2) mengalirkan sungai, (3) menggali sumur (4) menanamkan kurma, (5) membangun masjid (6) mewariskan mushaf (7) meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal

Dalil khusus yang berkaitan dengan wakaf dalam hadits:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الحَارِثِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الجُعْفِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الحَارِثِ خَتَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخِي جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الحَارِثِ، قَالَ: «مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا،إِلَّا بَغْلَتَهُ البَيْضَاءَ، وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً .

Ibrâhîm bin al-Harits telah bercerita kepada kami (al-Bukhârî), Yahyâ bin Abî Bukair telah bercerita kepada kami, Zuhair bin Mu’âwiyyah al-Ju’fi telah bercerita kepada kami, Abû Ishâq telah bercerita kepada kami dari Amru bin al-Hârits (yang menjadi saudara ipar Rasulullah karena telah menikahi saudarinya, Juwairiyyah bin al-Hârits ), ia berkata, “Ketika Rasulullah saw meninggal tidak meninggalkan dirham, dinar, budak laki dan perempuan dan tidak sesuatu pun kecuali keledai putih, senjata dan sebidang tanah sebagai sedekah.

Ibnu Hajar al-Asqâlani (w.773 H), menerangkan dalam kitabnya, Fath al-Bârî, hadits ini tidak berkaitan dengan wasiat. Sedakah yang dimaksud di sini adalah wakaf karena ada anjuran untuk memproduktifkan tanah untuk Ibnu Sabil sebagaimana yang pernah diriwayatkan dari Ibnu Ishâq.

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ , أَخْبَرَنِي نُذَيْرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَنَاحٍ الْمُحَارِبِيُّ بِالْكُوفَةِ، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبِي الْأَحْوَصِ الثَّقَفِيُّ , ثنا أَبِي , ثنا الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ الْهَمْدَانِيُّ , ثنا أَبُو حَفْصٍ الْأَبَّارُ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ مَسْرُوقٍ , عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” جَعَلَ سَبْعَ حِيطَانٍ لَهُ بِالْمَدِينَةِ صَدَقَةً عَلَى بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَبَنِي هَاشِمٍ “

Abû Abdullâh al-Hâfizh telah mengkhabarkan kepada kami (al-Baihaqî), Nudzir bin Muhammad bin Janâh al-Muhâribî telah mengkhabarkan kepada kami di Kuffah, al-Husain bin Umar bin Abî al-Ahwas al-Tsaqafî telah mengkhabarkan kepadaku, Ayahku telah menceritakan kepada kami, al-Hasan bin Ziyâd al-Hamdanî telah menceritakan kepada kami, Abû Hafs al-Abâr telah menceritakan kepada kami dari al-A‟mas dari Ibrâhîm dari Masrûq dari Aisyah ra, bahwasanya  Rasulullâh saw menjadikan tujuh bangunannya, di Madinah sebagai sedekah atas Banî Muthalib dan Banî Hâsim.

 Al-Mawardi (w.450 H) menceritakan bahwa Nabi mewakafkan tujuh bangunan. Pertama, tanah beliau dari Bani Nadhir . Selain itu ada tiga benteng yang direbut pada perang Khaibar, yaitu benteng Katibah, Wathikah dan Sulalim. Kelima,separuh dari Bani Fadik. Keenam, sepertiga dari tanah Wadil Qura. Sedangkan sedekah yang ketujuh aku tidak mengetahuinya. Tetapi Nabi saw pernah mensedekahkan batu-batuan sebagai tempat jual beli (pasar) di Madinah.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ، قَالَ: أَنْبَأَنِي نَافِعٌ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنْ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُ بِهِ؟ قَالَ: «إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا» قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ، أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ، وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الفُقَرَاءِ، وَفِي القُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ، وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ قَالَ: فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ، فَقَالَ: غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا   (رواه البخاري )

Qutaibah bin Sa‟id telah menceritakan kepada kami (al-Bukhârî), Muhammad bin Abdillah al-Anshârî telah menceritakan kepada kami, Ibnu Awn telah menceritakan kepada kami, ia berkata Nâfi’ telah menceritakan kepadaku dari Ibnu Umar ra bahwasanya Umar bin al-Khaththâb telah mendapatkan tanah di Khaibar, kemudian Umar berkata, “Ya Rasulullah, aku telah mendapatkan harta yang lebih berharga dari tanah tersebut. Apakah yang Baginda perintahkan kepadaku?‟ Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika engkau mau, tahanlah asalnya dan sedekahkan (manfaat-nya).‟ Ibnu Umar berkata, „Maka Umar menyedekahkannya, untuk itu tanah tersebut tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Sedekah tersebut diperuntukkan bagi orang-orang fakir, keluarga dekat, memerdekakan budak, untuk menjamu tamu dan untuk orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Tidak mengapa orang yang mengusai (nazirnya) makan sebagian dari padanya dengan baik dan memberi makan (kepada keluarga-nya) dengan syarat tidak dijadikan hak milik.” Râwî berkata, :”\Saya menceritakan hadits tersebut kepada Ibnu Sirîn, lalu ia berkata, “Tanpa menyimpannya sebagai hak milik.”

Ibnu Hajar al-Asqâlanî (w.773 H) mengatakan, dalam hadits ini ada beberapa ketentuan dalam wakaf, yaitu:

  • Harta wakaf tidak boleh habis dan harus didistribusikan
  • Harta wakaf tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwaris
  • Penidistribusian hasil produktif wakaf kepada golongan yang termasuk penerima zakat, yaitu: Fakir, budak, sabilillah dan Ibnu Sabil dan yang tidak termasuk golongan penerima zakat, yaitu: tamu dan keluarga
  • Nazir boleh mengambil hasil wakaf sesuai dengan adat (peraturan) setempat yang berlaku. Ada juga yang berpendapat sesuai dengan profesionalisme nazir
  • Harta wakaf sudah bukan menjadi milik wakif lagi.

Mayoritas ulama, salaf dan sesudah mereka, memperbolehkan wakaf.

Sahabat Jabir berkata, “Tidak ada sahabat Nabi saw yang mempunyai harta yang lebih, kecuali melaksanakan wakaf.” Al-Qurthubi berkata,  “Seseorang yang telah menolak wakaf itu telah menyalahi ijma, karena itu tedak boleh mengikutinya.”

Bila mengikuti pendapat yang membolehkan wakaf, maka hukum wakaf mubah dengan memperhatian niatnya. Bila berniat mencari ridha atau mendekatkan diri kepada Allah swt, maka hukumnya sunnah. Sama halnya dengan hukum nikah, yang didasari menjaga diri dari kemaksiat, hukumnya sunah. Namun jika tanpa niat, hukumnya mubah.

Wakaf menjadi wajib bila dinazarkan. Misalnya jika Allah menganugerahi aku anak laki-laki maka saya akan mewakafkan tanah 1000 M2 untuk Pesantren. Bila nanti dianugerahi Allah SWT anak-anak laki, maka wajib wakaf ke pesantren. Kewajiban penunaian nazar ini berdasarkan firman Allah SWT.

ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢٩

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al-Hajj [22];29)

Juga berdasarkan Hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ المَلِكِ، عَنِ القَاسِمِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ»   (رواه البخاري) [1]

Abû ‘Ashim telah bercerita kepada kami (al-Bukhârî) dari Mâlik dari Thalhah bin Abdul Mâlik dari al-Qâsim dari ‘Aisyâh ra, ia berkata: Nabi saw telah bersabda, barangsiapa yang bernazar mentaati Allah, maka hendaklah mentaatinya dan barangsiapa yang bernazar mendurhakai-Nya, maka janganlah mendurhakainya.”

Wakaf menjadi haram, yaitu ketika mewakafkan dengan motif mencelakan ahli waris. Misalnya mewakafkan kepada anak laki-laki saja, sementara perempuan tidak. Hal seperti ini tidak dibolehkan karena menzalimi yang lain.

[1] Muhammad bin Ismail Al-Bukhârî, Shahîhul Bukhâri, Juz VIII , (Mesir :Daruth Thuqun Najâh, tt), h.142